
Tren Diet Intermittent Fasting Kembali Populer: Apa Kata Ahli
Tren Diet Intermittent Fasting atau puasa berselang, kembali menjadi salah satu tren gaya hidup sehat yang banyak di ikuti di tahun 2025. Meski bukan konsep baru, IF kini mengalami kebangkitan popularitas di tengah masyarakat yang semakin sadar pentingnya manajemen berat badan dan kesehatan metabolik. Di berbagai platform media sosial, selebriti, influencer kebugaran, hingga praktisi kesehatan kembali membicarakan manfaat dari pola makan ini, memicu lonjakan minat publik secara global, termasuk di Indonesia.
Intermittent Fasting mengacu pada pola makan yang membatasi waktu konsumsi makanan ke dalam jendela waktu tertentu, seperti pola 16:8 (puasa selama 16 jam dan makan dalam waktu 8 jam), 5:2 (dua hari puasa dalam seminggu), atau OMAD (One Meal A Day). Pola ini di percaya dapat membantu menurunkan berat badan, meningkatkan energi, dan memperbaiki fungsi tubuh seperti sensitivitas insulin dan peradangan.
Banyak orang tertarik kembali pada IF karena pendekatannya yang lebih fleksibel di bandingkan diet ketat lain. Tidak ada pembatasan jenis makanan secara spesifik, melainkan hanya pada waktu makan. Ini membuat IF terasa lebih mudah di ikuti dalam jangka panjang. Selain itu, sejumlah aplikasi dan fitur teknologi kesehatan kini menyediakan alat bantu seperti pengatur waktu puasa, jurnal makanan, dan pelacak kemajuan, yang membantu pengguna menjaga konsistensi.
Pandemi COVID-19 juga membawa dampak besar dalam hal kesadaran kesehatan. Banyak individu yang mengalami perubahan pola hidup akibat stres, peningkatan berat badan, dan kurangnya aktivitas fisik selama masa pembatasan sosial.
Tren Diet Intermittent Fasting dengan momentum yang sedang berlangsung, tren IF di perkirakan akan terus berkembang, terutama di kalangan profesional muda dan masyarakat urban yang mencari solusi praktis untuk menjaga kebugaran. Namun, perlu di ingat bahwa setiap metode diet tetap perlu di sesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing, dan konsultasi dengan tenaga medis adalah langkah penting sebelum memulainya.
Tinjauan Ilmiah: Apa Saja Manfaat Tren Diet Intermittent Fasting
Tinjauan Ilmiah: Apa Saja Manfaat Tren Diet Intermittent Fasting, mulai dari manajemen berat badan hingga peningkatan fungsi otak. Salah satu alasan mengapa IF kembali populer adalah karena munculnya bukti-bukti ilmiah yang menunjukkan potensi manfaat metabolik dan kardiovaskular yang signifikan.
Salah satu mekanisme utama dari IF adalah peralihan metabolik yang terjadi selama periode puasa. Ketika tubuh tidak mendapatkan asupan kalori selama lebih dari 12 jam, ia mulai membakar cadangan glikogen dan beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi utama. Proses ini di sebut ketogenesis ringan dan dapat membantu dalam menurunkan kadar lemak tubuh tanpa perlu pembatasan kalori ekstrem.
Studi yang di terbitkan oleh New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa IF dapat meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi kadar kolesterol jahat (LDL). Selain itu, IF juga di ketahui menurunkan peradangan kronis rendah yang berkaitan dengan berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, bahkan kanker.
Dalam penelitian lain yang di lakukan oleh University of California, peserta yang menerapkan pola 16:8 selama tiga bulan menunjukkan penurunan berat badan rata-rata 3-5 kilogram, perbaikan profil lipid darah, serta peningkatan kualitas tidur dan energi. Efek psikologis positif seperti berkurangnya kecemasan terhadap makanan juga tercatat, karena peserta tidak harus terus-menerus menghitung kalori atau mengikuti daftar pantangan yang ketat.
Selain itu, intermittent fasting juga di anggap memiliki dampak pada fungsi otak. Ketika tubuh masuk dalam fase puasa, produksi hormon neurotropik (BDNF) meningkat, yang berkaitan dengan peningkatan fungsi kognitif dan perlindungan terhadap gangguan neurodegeneratif. Oleh karena itu, beberapa ilmuwan mulai meneliti potensi IF dalam membantu pencegahan Alzheimer dan Parkinson.
Secara keseluruhan, tinjauan ilmiah mendukung IF sebagai salah satu pendekatan gaya hidup sehat, tetapi bukan solusi universal. IF dapat bermanfaat jika di jalankan secara konsisten, dengan asupan gizi seimbang selama jendela makan, dan tetap memperhatikan kebutuhan spesifik tubuh masing-masing individu.
Apa Kata Ahli Gizi Dan Dokter? Rekomendasi Serta Peringatan
Apa Kata Ahli Gizi Dan Dokter? Rekomendasi Serta Peringatan, para ahli gizi dan dokter menyampaikan sejumlah catatan penting terkait penerapannya. Mereka mengingatkan bahwa IF bukanlah diet ajaib, dan keberhasilannya sangat tergantung pada bagaimana seseorang mengatur pola makan secara keseluruhan, bukan hanya jam makan.
Menurut Dr. Lisa Maharani, spesialis gizi klinis dari Jakarta, IF dapat menjadi alat bantu efektif. Untuk penurunan berat badan, namun harus di iringi dengan kualitas makanan yang baik. “Kalau jendela makannya delapan jam, tetapi yang di konsumsi adalah gorengan, makanan olahan. Dan minuman manis, maka manfaat IF tidak akan maksimal,” ujarnya.
Ahli juga menekankan pentingnya hidrasi selama puasa. Air putih, teh tawar, atau kopi tanpa gula boleh di konsumsi selama jam puasa untuk mencegah dehidrasi dan membantu mengontrol rasa lapar. Menghindari konsumsi berlebihan saat berbuka juga penting agar tidak terjadi lonjakan insulin atau gangguan pencernaan.
Dokter juga memberikan peringatan terhadap kelompok tertentu yang sebaiknya tidak menjalani IF tanpa pengawasan. Misalnya, wanita hamil dan menyusui, anak-anak dan remaja dalam masa pertumbuhan. Serta individu dengan penyakit kronis seperti diabetes, maag kronis, atau gangguan tiroid. Pada kelompok ini, perubahan pola makan harus di sesuaikan secara individu oleh tenaga medis.
Dari sisi psikologis, IF juga tidak cocok bagi mereka yang memiliki riwayat gangguan makan. Mengatur waktu makan yang ketat dapat memicu perilaku obsesif terhadap makanan atau memperburuk kondisi mental. Oleh karena itu, konsultasi dengan ahli nutrisi dan psikolog sangat di sarankan bagi mereka yang ragu atau memiliki kondisi khusus.
Kesimpulannya, IF memang memiliki potensi manfaat yang besar, namun perlu di lakukan dengan pemahaman dan tanggung jawab. Edukasi yang baik dan bimbingan dari profesional kesehatan akan memastikan bahwa tren ini. Tidak hanya menjadi gaya hidup sesaat, melainkan bagian dari kebiasaan sehat yang berkelanjutan.
Intermittent Fasting Di Era Digital: Peran Aplikasi Dan Komunitas
Intermittent Fasting Di Era Digital: Peran Aplikasi Dan Komunitas kini mendapat dorongan besar dari hadirnya teknologi. Dan komunitas daring yang aktif memberikan informasi, motivasi, dan dukungan bagi para pelakunya. Aplikasi seperti Zero, Fastic, dan FastHabit menjadi alat bantu populer yang memudahkan pengguna melacak. Waktu puasa, memberi notifikasi kapan harus mulai dan berhenti makan, serta menyediakan artikel edukatif harian.
Penggunaan aplikasi ini terbukti meningkatkan kepatuhan pengguna terhadap jadwal IF, sekaligus memberi rasa pencapaian yang memotivasi. Beberapa fitur premium bahkan menyediakan panduan berbasis data pribadi seperti BMI, usia, dan target kalori harian, sehingga lebih personal. Di Indonesia, aplikasi lokal seperti GiziKu juga mulai menyertakan fitur khusus untuk pola makan intermittent.
Selain aplikasi, peran komunitas daring tidak kalah penting. Di platform seperti Instagram, Facebook, hingga Reddit, grup-grup IF dengan ribuan anggota berbagi pengalaman, resep sehat, serta memberikan dukungan emosional. Interaksi ini menciptakan rasa kebersamaan yang mengurangi perasaan ‘sendirian’ saat menjalani tantangan diet.
Influencer kesehatan dan dokter yang aktif di media sosial juga memainkan peran besar dalam menyebarkan informasi. Video pendek edukatif tentang cara memulai IF, menu berbuka sehat, serta tips berpuasa saat bekerja banyak dicari masyarakat. Dengan algoritma media sosial yang mendukung konten kebugaran, tren IF menyebar sangat cepat dan efektif.
Dengan dukungan teknologi dan komunitas digital, Intermittent Fasting kini lebih mudah diakses dan dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat. Kombinasi antara edukasi, motivasi sosial, dan alat bantu digital menjadikan IF bukan sekadar tren musiman. Melainkan bagian dari transformasi digital dalam gaya hidup sehat masa kini dari Tren Diet Intermittent Fasting.