OECD Sorot Kegagalan Kelola Sampah Di Asia Tenggara

OECD Sorot Kegagalan Kelola Sampah Di Asia Tenggara

OECD Sorot Kegagalan Kelola Sampah Di Asia Tenggara Dengan Berbagai Faktor Utama Dan Beberapa Hal Lainnya. Salam rekan-rekan pegiat lingkungan dan pembaca yang peduli akan masa depan Asia Tenggara! Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi baru-baru ini merilis sebuah laporan. Terlebih yang isinya benar-benar memprihatinkan dan menjadi tamparan keras bagi kawasan kita. Dan mereka secara spesifik menyoroti kegagalan masif dalam pengelolaan sampah di Asia Tenggara. Terutama yang berkaitan dengan plastik. Laporan ini menunjukkan bahwa meskipun negara-negara di ASEAN adalah konsumen plastik terbesar di dunia, infrastruktur dan kebijakan pengelolaan sampah kita masih jauh dari kata memadai. Kemudian mencemari lautan kita dan merusak ekosistem vital. Mari kita telaah lebih dalam. Kemudian apa saja poin dari OECD Sorot Kegagalan pengelolaan sampah ini!

Mengenai ulasan tentang OECD Sorot Kegagalan kelola sampah di Asia Tenggara telah di lansir sebelumnya oleh kompas.com.

Tren Saat Ini Dan Proyeksi (Tanpa Kebijakan Baru / Baseline)

Tanpa intervensi kebijakan baru di luar apa yang sudah berjalan sekarang. Serta yang disebut “baseline scenario”, kawasan Asia Tenggara dan Timur. Ataupun ASEAN Plus Three: 10 negara ASEAN di tambah China, Jepang, dan Korea. Tentu yang sedang berada di jalur pertumbuhan penggunaan dan limbah plastik yang tajam dan berkelanjutan. Penggunaan plastik regional di perkirakan hampir menggandakan diri dari 152 juta ton pada 2022. Serta yang menjadi 280 juta ton per tahun pada 2050. Kemudian juga kenaikan ini di dorong oleh pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat. Maupun juga dengan rata-rata sekitar 2.4% per tahun untuk kawasan. Hingga dengan negara-negara ASEAN, terutama yang berpendapatan menengah ke bawah. Dan juga mengalami kenaikan paling cepat (dari 29 Mt menjadi 83 Mt). Sementara Plus Three juga tumbuh (dari 122 Mt menjadi 197 Mt). Meski dengan laju yang lebih moderat karena perubahan struktur ekonomi ke jasa yang relatif.

OECD Sorot Kegagalan Kelola Sampah Di Asia Tenggara Yang Kian Mencemaskan

Kemudian juga masih membahas OECD Sorot Kegagalan Kelola Sampah Di Asia Tenggara Yang Kian Mencemaskan. Dan fakta lainnya adalah:

Dampak Lingkungan & Iklim

Kedua hal ini yaitu jika tidak ada pengetatan kebijakan baru. Serta yang di gambarkan dalam Regional Plastics Outlook for Southeast and East Asia sangat luas. Terlebih juga yang berlapis, dan saling memperkuat. Secara lingkungan, peningkatan besar-besaran dalam penggunaan dan pembuangan plastik di kawasan ASEAN Plus Three menghasilkan akumulasi plastik. Kemudian yang terus menumpuk di ekosistem air tawar dan laut. Sementara secara iklim, seluruh siklus hidup plastik. Atau dari produksi hingga akhir hidupnya. Lalu yang mendorong emisi gas rumah kaca yang signifikan. Dan memperburuk tekanan terhadap sistem alami yang menyimpan karbon. Dalam hal polusi air, laporan menggarisbawahi bahwa di bawah kebijakan saat ini, kebocoran plastik ke lingkungan akan meningkat tajam. Serta total kebocoran di kawasan APT di proyeksikan naik sekitar 68%. Tentunya dari 8.4 juta ton per tahun pada 2022 menjadi 14.1 juta ton pada 2050.

Meskipun ada perbaikan moderat dalam pengelolaan. Sehingga proporsi relatif sedikit menurun. Sebagian besar plastik awalnya memasuki sistem perairan tawar. Terlebihnya juga dengan sungai dan danau. Dan di mana akumulasi menjadi beban kumulatif besar. Hingga di perkirakan pada 2050, sungai dan danau akan menyimpan sekitar 126 juta ton plastik. Lalu lebih dari dua kali lipat di banding 2022. Plastik yang bocor ke lingkungan air tawar tidak hanya mengambang, tetapi separuhnya cepat tenggelam ke dasar, menciptakan reservoir panjang umur yang terus mempengaruhi kualitas air dan organisme bentik. Sebagian lain terus bergerak menuju laut. Tentunya akumulasi di laut di proyeksikan lebih dari tiga kali lipat. Jika di bandingkan level 2022, mencapai puluhan juta ton menempatkan tekanan berat pada ekosistem pesisir dan laut. Kondisi ini membahayakan keanekaragaman hayati, merusak habitat ikan. Serta organisme laut, mengganggu mata pencaharian berbasis perikanan. Dan menurunkan fungsi ekosistem yang mendukung kehidupan manusia.

Ancaman Ledakan Limbah Plastik Di AsiaTenggara, Kata OECD

Selain itu, masih membahas Ancaman Ledakan Limbah Plastik Di AsiaTenggara, Kata OECD. Dan fakta lainnya adalah:

Kebutuhan Kebijakan Dan Kerangka Institusional

Laporan mereka menjelaskan bahwa untuk menghindari “ledakan” polusi plastik di Asia Tenggara dan Timur. Dan tidak cukup hanya punya niat atau kebijakan parsial. Karena di perlukan perubahan sistemik yang mencakup keseluruhan siklus hidup plastik. Dan juga di dukung oleh kerangka institusional yang kuat. Saat ini ada komitmen politik awal sembilan dari 13 negara ASEAN Plus Three sudah memiliki. Ataupun sedang merancang rencana aksi nasional. akantetapi terdapat kesenjangan nyata antara kebijakan yang ada. Serta apa yang di perlukan untuk mencapai skenario ambisius (High Stringency). Kesenjangan itu meliputi cakupan yang tidak lengkap sepanjang lifecycle plastik, kapasitas pengumpulan dan daur ulang yang lemah. Terutama di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah, fragmentasi antarnegara dalam standar dan implementasi. Dan juga eksklusi sektor informal yang selama ini memainkan peran besar dalam pemilahan dan pengumpulan.

Untuk beralih dari trajectory baseline ke hasil yang secara substansial mengurangi penggunaan, limbah, dan kebocoran plastik. Dan laporan menyarankan paket kebijakan terkoordinasi. Ini mencakup: desain ulang produk. Hingga pengurangan permintaan melalui eco-design dan pembatasan plastik sekali pakai. Penerapan mekanisme Extended Producer Responsibility (EPR). Terlebih membuat produsen bertanggung jawab atas end-of-life produknya. Kemudian mendorong mereka mendesain untuk daur ulang; penguatan sistem pengumpulan, pemilahan. Dan infrastruktur daur ulang (termasuk integrasi dan pemberdayaan pekerja informal) agar limbah tidak lagi “tidak tertangani dengan baik”. Serta penutupan jalur kebocoran melalui peningkatan pengelolaan akhir, standar teknis, dan pemantauan. Tentunya di insentif ekonomi seperti deposit-refund, pajak pada plastik primer. Dan subsidi untuk plastik daur ulang agar insentif pasar berpindah menuju sirkularitas. Harmonisasi definisi, klasifikasi, dan aturan teknis secara regional juga penting agar tindakan satu negara tidak di longgarkan oleh kebijakan berbeda.

Ancaman Ledakan Limbah Plastik Di AsiaTenggara, Kata OECD Yang Jadi Peringatan Keras

Selanjutnya juga masih membahas Ancaman Ledakan Limbah Plastik Di AsiaTenggara, Kata OECD Yang Jadi Peringatan Keras. Dan fakta lainnya adalah:

Aspek Ekonomi Dan Keadilan

Mengadopsi paket kebijakan yang komprehensif sepanjang siklus hidup plastik (High Stringency). Terlebih memang menimbulkan biaya ekonomi. Akan tetapi dalam skala regional biaya tersebut relatif modest. Jika di bandingkan kerugian lingkungan yang di hindari. Pada 2050, skenario High Stringency di proyeksikan menyebabkan penurunan output agregat sekitar 0.8% dari GDP regional. Serta d ibandingkan baseline. Dan artinya pertumbuhan ekonomi sedikit lebih rendah, namun tidak dristis. Namun, beban itu tidak terdistribusi merata. Negara-negara ASEAN, khususnya yang berstatus lower middle-income (LMIC). Terlebihnya akan menanggung biaya yang jauh lebih besar relatif terhadap ukuran ekonominya: rata-rata 2.4% penurunan GDP bagi ASEAN secara keseluruhan. Dan hingga 2.8% bagi ASEAN LMIC pada 2050. Sebaliknya, Plus Three (China, Jepang, Korea) justru menghadapi dampak GDP yang sangat kecil (sekitar 0.3%).

Bahkan mendapatkan keuntungan kompetitif tertentu dari desain ulang. Kemudian juga efisiensi yang di dorong kebijakan. Kesenjangan kapasitas dan dampak ekonomi menuntut pendekatan yang memperhitungkan keadilan antarnegara. Tanpa mekanisme dukungan dan pembagian beban. Serta dengan negara-negara berpendapatan lebih rendah bisa menghadapi beban relatif yang tidak proporsional. Serta yang berisiko memperlambat adopsi kebijakan ambisius. Ataupun menciptakan resistensi politik. Oleh karena itu, kerangka kebijakan yang adil harus mencakup bantuan teknis, transfer dana. Dan insentif yang menyeimbangkan biaya awal agar negara-negara dengan kapasitas terbatas tidak tertinggal. Sementara tetap mengejar hasil lingkungan tinggi. Meskipun ada biaya, skenario High Stringency memberikan hasil lingkungan yang jauh lebih baik dengan biaya total yang lebih efisien. Jika di bandingkan alternatif seperti “Differentiated Stringency”.

Nah itu dia beberapa fakta mengenai kegagalan kelola sampah di Asia Tenggara terkait OECD Sorot Kegagalan.