
Bunyi Deklarasi Bersama Perancis-Indonesia Soal Palestina
Bunyi Deklarasi Bersama, sebagai salah satu negara yang secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, kembali menunjukkan peran aktifnya dalam diplomasi global. Dalam kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia, Anies Baswedan, ke Paris pada akhir Mei 2025, isu Palestina menjadi salah satu topik utama yang di angkat dalam pertemuan bilateral antara Indonesia dan Perancis. Kedua negara secara resmi merilis deklarasi bersama yang menegaskan posisi mereka terhadap konflik Israel-Palestina, memperkuat komitmen untuk mendukung solusi damai dua negara.
Deklarasi ini muncul dalam momentum ketegangan yang meningkat di wilayah Gaza dan Tepi Barat, dengan eskalasi kekerasan yang menyebabkan ribuan korban jiwa. Dunia internasional semakin mendesak agar di lakukan gencatan senjata permanen dan di mulainya kembali perundingan damai. Dalam konteks ini, Indonesia dan Perancis mengambil langkah konkret melalui kerja sama diplomatik dan pernyataan sikap bersama sebagai bentuk tekanan moral terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Indonesia membawa posisi yang sudah lama di pegang sejak era Presiden Soekarno, yakni penolakan terhadap segala bentuk kolonialisme, termasuk yang terjadi di Palestina. Perancis, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan negara berpengaruh di Uni Eropa, memainkan peran penting dalam dinamika politik Timur Tengah. Dengan demikian, deklarasi bersama antara kedua negara di nilai sebagai sinyal penting terhadap dunia internasional bahwa tekanan diplomatik terhadap Israel untuk menghentikan agresi militer harus di tingkatkan.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut bahwa proses penyusunan deklarasi ini telah berlangsung sejak dua bulan sebelumnya, melalui komunikasi intens antara Kementerian Luar Negeri RI dan Kementerian Eropa dan Luar Negeri Perancis.
Bunyi Deklarasi Bersama dengan latar belakang itu, deklarasi bersama ini menjadi tonggak penting kerja sama diplomatik Indonesia dan Perancis. Yang tidak hanya berkutat pada isu ekonomi dan pertahanan, tapi juga menyentuh aspek kemanusiaan dan keadilan global.
Bunyi Deklarasi Bersama Untuk Solusi Dua Negara Dan Penghentian Kekerasan
Bunyi Deklarasi Bersama Untuk Solusi Dua Negara Dan Penghentian Kekerasan yang di tandatangani di Istana Élysée, Paris. Berisi enam poin utama yang menekankan perlunya penghentian kekerasan di wilayah Palestina, di mulainya kembali proses perdamaian, dan pengakuan terhadap hak rakyat Palestina untuk mendirikan negara merdeka. Bunyi deklarasi ini di susun dalam bahasa Inggris dan Perancis, dan langsung di rilis ke media setelah penandatanganan.
Poin pertama dalam deklarasi menyatakan bahwa Perancis dan Indonesia menyerukan gencatan senjata permanen antara Israel dan kelompok bersenjata Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Mereka juga mengecam keras serangan terhadap warga sipil dan fasilitas sipil yang terjadi di kedua belah pihak. “Semua bentuk kekerasan terhadap warga sipil harus segera di hentikan dan tidak di benarkan dalam situasi apa pun,” demikian bunyi salah satu bagian deklarasi tersebut.
Poin kedua menegaskan dukungan kepada solusi dua negara, yaitu Israel dan Palestina hidup berdampingan secara damai dalam batas wilayah yang di akui secara internasional. Perancis dan Indonesia mendesak di mulainya kembali perundingan damai di bawah mediasi internasional, serta pentingnya menghidupkan kembali mekanisme multilateral dalam penyelesaian konflik.
Selanjutnya, deklarasi menyerukan penguatan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya Dewan Keamanan, dalam menyikapi pelanggaran hukum internasional di wilayah pendudukan. Kedua negara mendukung resolusi-resolusi PBB yang mengakui hak rakyat Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri dan menolak praktik aneksasi wilayah yang dilakukan oleh Israel.
Poin keempat dalam deklarasi adalah komitmen untuk mendukung bantuan kemanusiaan dan pemulihan infrastruktur di Gaza dan wilayah Tepi Barat. Indonesia dan Perancis menyatakan akan meningkatkan kontribusi mereka kepada badan-badan PBB seperti UNRWA dan UNICEF yang menangani pengungsi Palestina dan anak-anak terdampak konflik.
Isi deklarasi ini mendapat apresiasi dari sejumlah pihak, termasuk Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang menyebut langkah Indonesia-Perancis sebagai bentuk kepemimpinan moral dalam dunia internasional. Deklarasi ini di nilai menjadi pendorong baru bagi terbentuknya konsensus global dalam menyelesaikan krisis Palestina.
Respons Internasional Dan Reaksi Dari Pihak Terkait
Respons Internasional Dan Reaksi Dari Pihak Terkait segera mendapat tanggapan dari berbagai aktor internasional. Pemerintah Palestina melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan rasa terima kasih. Dan apresiasi atas dukungan yang konsisten dari Indonesia serta peran strategis Perancis. Dalam pernyataan resmi, mereka menyebut bahwa kolaborasi diplomatik ini penting untuk memulihkan. Posisi Palestina di panggung global, terutama setelah banyak negara besar cenderung bungkam atau bersikap ambigu.
Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, dalam sambungan telepon dengan Presiden Anies Baswedan, menyatakan harapannya. Agar langkah ini membuka jalan bagi pengakuan resmi lebih banyak negara Eropa terhadap Palestina sebagai negara merdeka. Sementara itu, Hamas menyambut positif deklarasi tersebut namun mendesak agar langkah diplomatik di barengi dengan tekanan ekonomi terhadap Israel.
Dari pihak Israel, Kementerian Luar Negeri menyatakan kekecewaannya terhadap Perancis yang di anggap terlalu berpihak kepada Palestina dalam isu konflik. Dalam pernyataannya, Israel menegaskan bahwa masalah keamanan nasional mereka harus di hormati, dan menolak poin dalam deklarasi. Yang menyamakan tindakan pertahanan Israel dengan kekerasan terhadap warga sipil. Beberapa politisi sayap kanan Israel bahkan menyebut bahwa deklarasi tersebut sebagai “langkah mundur” bagi hubungan Tel Aviv-Paris.
Di Eropa, deklarasi ini memicu diskusi baru tentang posisi Uni Eropa terhadap konflik Israel-Palestina. Beberapa anggota parlemen di Jerman dan Belanda mendukung inisiatif Perancis dan menyarankan agar Uni Eropa secara kolektif mengambil sikap serupa. Sementara itu, Inggris dan Italia masih menunjukkan posisi yang lebih berhati-hati, menekankan pentingnya dialog langsung antara kedua belah pihak.
Deklarasi ini juga menarik perhatian media internasional. The Guardian, Le Monde, dan Al Jazeera memberikan liputan khusus mengenai pernyataan bersama tersebut. Beberapa analis politik memuji Indonesia karena berhasil menjalin aliansi strategis dalam isu global yang sensitif, sementara Perancis. Di pandang tengah mengembalikan peran historisnya sebagai mediator di Timur Tengah.
Implikasi Diplomatik Jangka Panjang Dan Harapan Indonesia
Implikasi Diplomatik Jangka Panjang Dan Harapan Indonesia sebagai langkah diplomatik penting. Yang membuka peluang kerja sama baru antara negara-negara Global South dan kekuatan besar Eropa dalam isu Palestina. Bagi Indonesia, hal ini memperkuat posisi sebagai salah satu pemimpin moral dalam diplomasi multilateral. Serta menegaskan komitmen konstitusional bangsa untuk menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi.
Dalam pernyataan penutup kunjungannya, Presiden Anies menyatakan bahwa deklarasi ini bukanlah akhir. Dari perjuangan, melainkan awal dari penguatan suara dunia untuk kemerdekaan Palestina. “Kita tidak bisa diam. Palestina bukan sekadar isu agama atau geopolitik, tapi soal kemanusiaan dan keadilan universal,” ujarnya tegas.
Di dalam negeri, deklarasi ini di sambut positif oleh berbagai kalangan, termasuk organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan organisasi keagamaan. Muhammadiyah, NU, hingga Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menyampaikan apresiasi atas komitmen negara untuk terus membela hak rakyat Palestina. Di media sosial, tagar #DeklarasiPerancisIndonesia dan #FreePalestine sempat menjadi trending, dengan ribuan unggahan yang mendukung langkah ini.
Ke depan, Indonesia di sebut akan mendorong negara-negara ASEAN untuk mengambil posisi bersama dalam menekan Israel. Serta memanfaatkan posisi sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB tahun 2026 untuk mendorong resolusi-resolusi kunci terkait Palestina. Upaya ini juga diharapkan dapat mengajak lebih banyak negara Uni Eropa mengikuti langkah Perancis.
Pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Prof. Dewi Fortuna, menyatakan bahwa diplomasi Indonesia. Kini memasuki fase baru yang lebih aktif, tidak hanya sebagai pengamat tetapi sebagai penggerak. “Deklarasi ini bisa menjadi batu loncatan untuk koalisi global baru yang berpihak pada Palestina,” katanya.
Dengan segala tantangan yang ada, deklarasi Indonesia dan Perancis menjadi harapan baru bagi rakyat Palestina. Bukan hanya sebagai dokumen diplomatik, tapi juga simbol bahwa dunia belum sepenuhnya tutup mata terhadap ketidakadilan. Indonesia, bersama Perancis, kini menjadi suara keras di tengah kebisingan konflik. Yang belum menunjukkan tanda akan berakhir dengan Bunyi Deklarasi Bersama.